Perang Jawa dalam Catatan Harian Serdadu

Sebuah repihan catatan harian ditemukan di pasar loak tepian Seine, Prancis. Kejutannya, catatan usang itu berkisah tentang salah satu pertempuran terburuk dalam Perang Jawa.

Perang Jawa dalam Catatan Harian Serdadu Semasa
“Bestorming van Pleret”, sebuah sketsa karya G. Kepper pada 1900, yang mengisahkan prestasi serdadu Hindia Belanda. Pertempuran Plérèd berkecamuk pada 9 Juni 1826 di bekas kawasan keraton zaman Amangkurat Pertama, salah satu pertempuran terburuk dalam Perang Jawa. (Wikimedia)

“Plerette (Plérèd) adalah apa yang kita sebut di sini sebagai kraton atau kediaman sultan, tetapi sudah tak dihuni dalam waktu yang lama,” tulis Kapten Errembault de Dudzeele et d’Orroir dalam catatan hariannya. “Kawasan itu dikelilingi oleh dinding setinggi sekitar tujuh meter, berbentuk persegi dengan sisi panjangnya 1,5 kilometer dan lebar sekitar separuhnya.”

Continue reading Perang Jawa dalam Catatan Harian Serdadu

KIAI SODIQ MUSLIH NGORO JOMBANG

Saat haul ke-27 KH Shodiq Muslih, pendiri Pesantren Mambaul Huda Genukwatu Ngoro Jombang, pengasuh Pesantren Al Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas, KH Jamaludin Ahmad, menceritakan sejumlah keistimewaan Kiai Shodiq.

’’Kiai Sodiq ini namanya, perkataannya, dan firasatnya, sama. Sodiq semua. Jarang ada orang yang nama dan perkataan serta perbuatannya sama seperti beliau,’’ tutur Kiai Jamal.

Kiai Jamal lantas menceritakan sejumlah mukasyafahnya Kiai Sodiq. Kiai Sodiq ini masih pakdenya Kiai Jamal.

Continue reading KIAI SODIQ MUSLIH NGORO JOMBANG

MBAH HAMID CHASBULLOH TAMBAKBERAS, KH. WACHID HASYIM, DAN HORMAT BENDERA

41Mbah yai Chamid adalah putra Mbah Chasbulloh Said Tambakberas yang wafat tahun 1956 M.

Dalam tutur tinular yang beredar, sepulang belajar dari Makkah, hidup beliau hanya ngglutek (fokus dan tinggal) di pondok untuk mengajar para santri atau mengaji di kampung-kampung sekitar Tambakberas saja. Jadi, bisa dikata, Mbah Hamid yang mengasuh pondok dengan dibantu Mbah Yai Fattah, sedang Mbah Wahab Chasbulloh bertugas untuk dakwah memperkenalkan NU keluar kota dan propinsi. Kalau pulang saja Mbah Wahab ngajar santri.

Di antara kelebihan mbah Hamid:

Continue reading MBAH HAMID CHASBULLOH TAMBAKBERAS, KH. WACHID HASYIM, DAN HORMAT BENDERA

Belajar Dari Kesungguhan Kiai

13254464_10201714247813873_4174141780599458194_nProf Ahmad Chatib (Allah yarham) pernah bercerita beliau baru saja membeli sebuah buku dalam perjalanan di luar negeri. Kemudian beliau berpapasan di pintu dengan Gus Dur yang segera melihat buku bagus di tangan Prof Ahmad Chatib. Gus Dur bergegas ke dalam toko buku hendak membeli buku yang sama, tapi ternyata itu stok buku terakhir yang ada. Gus Dur kemudian cepat-cepat mengejar Prof Ahmad Chatib dan meminta beliau untuk meminjamkan buku tersebut.

Continue reading Belajar Dari Kesungguhan Kiai

Anekdot Bra

Joke berikut diceritakan oleh Buya Hamka kepada Abah saya, yang kemudian pada tahun 1991 dalam penerbangan dari Tunisia menuju Kairo Abah menceritakannya kepada tiga orang Kiai anggota rombongan plus saya sendiri:

Tersebutlah orang Arab yang di dalam bis berperilaku agak aneh. Dia duduk di bis dengan tangan kanan sedikit terangkat di atas dada dan tangannya seolah setengah menggenggam. Ditanya kemudian oleh penumpang di sampingnya: “kenapa dengan tangan anda?”

Continue reading Anekdot Bra

RESOLUSI TROWULAN

13895087_10201964344786141_4731514375596548122_nMalam terasa dingin di Troloyo. Memang saat itu musim penghujan intensitasnya sedang meninggi di bulan Desember. Kawasan sekitar makam makam kuno dengan pohon tinggi dan besar itu mulai ramai didatangi orang. Mereka memang diundang untuk hadir ke makam Sjech Jumadil Kubro tersebut. Apa tujuannya ?

Mojokerto 1949, Pada akhir tahun itu sudah jarang terdengar berita pertempuran. Para pejuang berangsur mulai pulang kembali ke rumahnya setelah setahun lebih bergerilya. Demikian juga dengan para pengungsi kembali ke daerah asalnya. Perjanjian yang difasilitasi PBB berhasil membuat kesepakatan gencatan senjata antara pejuang kemerdekaan dengan tentara kolonialis. Kesepakatan yang ditanda tangani Moh. Roem dan Van Royen itu menjadi dasar gencatan senjata. Perundingan lanjutan di Den Haque semakin maju dengan rencana pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Kerajaan Belanda.

Continue reading RESOLUSI TROWULAN

Palang Pintu Betawi

Palang pintu
Foto kegiatan palang pintu oleh perguruan Rompes, Condet dalam acara Festival Condet 2016.

Palang pintu yang di dalamnya ada pantun, silat dan sike (pembacaan shalawat nabi) punya makna filosofis yang dalam.

Makna filosofis palang pintu Betawi, silat atau maen pukulan itu simbol kesigapan fisik calon penganten laki-laki untuk menjaga melindungi bini, keluarga, lingkungan, dan agama. Pertarungan dipastikan dimenangkan oleh pesilat dari pihak pengantin pria.

Sike simbol kesiapan batiniah seorang lelaki betawi dalam mengarungi rumah tangga, selalu membawa bini, keluarga lingkungan untuk senantiasa berada dalam akidah islamiah. Pada akhir acara silat, syarat yang paling utama diajukan oleh pihak memepelai wanita kepada pihak mempelai pria yaitu harus ada yang bisa mengaji. Untuk itu pihak pria telah menyiapkan Qori yang fasih melantun kan ayat ayat suci Alquran. Itu terkait erat dengan simbol roti buaya sebagai ekuilibrium lingkungan. Buaya siluman yang menjaga entuk (sumber mata aer) sebagai salah satu sumber hidup kehidupan.

Pantun menjadi penting dan strategis karena merupakan bentuk media komunikasi untuk menghindari penggunaan dialog sehari-hari yang kemungkinan penuh dengan kata-kata kasar. Jadi fungsi pantun pada upacara itu bertujuan memperhalus bentuk dialog sehingga suasana yang dibangun pada saat itu adalah suasana saling hormat-menghormati dan sakral, sambil tidak menghilangkan kesan meriah.

Sumber : Yahya Andi Saputra, Sejarawan Betawi, Ketua Bidang Pelestarian Lembaga Kebudayaan Betawi via Rachmad Sadeli

Ratu Ageng, Nenek Buyut Pangeran Diponegoro

Dalam email tertanggal 15 Agustus 2015, Oman Fathurrahman, filolog UIN Syarif Hidayatullah, menjelaskan kepada Peter Carey, bahwa Ratu Ageng, nenek buyut Pangeran Diponegoro, adalah penganut Tarekat Syattariyah.

Menurut Oman, berdasarkan penelitian atas naskah Jav. 69 [Silsilah Syattariyah] dari koleksi Colin Mackenzie di British Library, London, Ratu Ageng–yang disebut ‘Kangjeng Ratu Kadipaten’ dalam naskah– disebutkan dalam empat bait sebagai penganut setia yang memiliki pertalian langsung dengan para mursyid utama Tarekat Syattariyah di Jawa Barat, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (1640-1715) melalui empat silsilah ulama.

Continue reading Ratu Ageng, Nenek Buyut Pangeran Diponegoro

Pamer Nama

Ada seorang papa muda yang sedang melangsungkan akikah anaknya. Kiai yang hendak melangitkan do’a bertanya,

“Anakmu dikasih nama apa?”

“Bulladzi, Yai”

“Opo kui? Coba diulangi”

“Bulladzi, Yai”

“Bulladzi? Artinya apa?”

“Belum tahu. Rencana kami juga mau menanyakan artinya pada kiai. Tapi saya ambil nama ini tidak sembarangan kok, Yai.”

“Lah kamu dapat nama itu dari mana?”

“Dari shalawat, Yai”

“Oppooo? Shalawat yang mana? Bahasa Persi, Turki, opo Urdu?

“Arab. Itu lo yai, yang berbunyi Huwal HabiiBULLADZI”

Lalu hening.

Sumber : Sewu Pengalem

Kisah Gus Dur dan Abah Afandi

13700184_305328993137322_1733187302977182949_nSalah satu kiai sepuh NU Jawa Barat KH Afandi Abdul Muin Syafi’i yang akrab disapa Abah Afandi, berpulang ke rahmatullah, Rabu (13/7/2016) dalam usia 78. Abah Afandi pernah menuntut ilmu di sejumlah pesantren salah satunya di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang mulai tahun 1953 sampai tahun 1962.

Di antara teman yang akrab dengan Abah Afandi sewaktu mondok di Tambakberas adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat itu Gus Dur ikut pamannya yang bernama Mbah KH Fattah Hasyim Idris (Kiyai sepuh pesantren Tambakberas waktu itu).

Continue reading Kisah Gus Dur dan Abah Afandi