Syaikh Muhammad Mahfudz At Tarmasi

Di akhir abad XVII terjadi perpindahan bangsa-bangsa Barat, yaitu Inggris, Spanyol, dan Portugis dari beberapa kota di Indonesia karena kalah bersaing dengan Belanda. Pada 1663, Spanyol meninggalkan Tidore sehingga wilayah itu jatuh ke tangan Belanda, yang selama ini merupakan rival Spanyol. Bangsa-bangsa Eropa non-Belanda dipaksa untuk meninggalkan Makassar sesuai perjanjian Bongaya. Inggris yang meninggalkan Banten, pada 1864 membangun sebuah benteng dekat Bengkulu untuk mempertahankan posisinya selama lebih dari 150 tahun, sedangkan Portugis terdesak ke Timur untuk selanjutnya menjajah daerah itu selama 300 tahun.

Meskipun keadaan pelayaran niaga ke Timur Tengah dan suasana politik tidak kondusif untuk perjalanan haji, sepanjang abad XVIII masih juga secara sporadis banyak penduduk Nusantara yang mengunjungi Haramain. Bagi sebagian orang, kunjungan itu adalah untuk menuntut ilmu, sebagaimana pada masa permulaan haji, dan bagi sebagian yang lain untuk menunaikan ibadah haji. Kelompok terakhir ini, setelah selesai melaksanakan ibadah haji, biasanya segera kembali ke Nusantara.

Penguasa tradisional pada masa itu memang memiliki kebiasaan dan selalu berusaha untuk mengirimkan para ulamanya ke Makkah, meskipun usaha pengiriman adakalanya gagal. Pada 27 Safar 1192 H./27 Februari 1778 M., penguasa Belanda menolak permintaan Adipati Cianjur dan Tumenggung Buitenzorg (Bogor) untuk masing-masing mengirim seorang ulamanya ke Makkah.

Salah satu Ulama Nusantara yang menuntut ilmu di Makkah adalah Syaikh Mahhfudz Tremas. ayahnya membawanya ke Makkah pada tahun 1291/1874 , untuk menimba ilmu kepada para ulama’ haramain, diantaranya adalah Syaikh Ahmad al-Minsyawi, Syaikh `Umar bin Barakat asy-Syami, Syaikh Mustafa al-‘Afifi, Sayyid Husein bin Sayid Muhammad al-Habsyi, Syaikh Muhammad Sa’id BaBashail, Sayyid Ahmad az-Zawawi, Sayyid Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan al-Madani,Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad asy-Syatha, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki. Para Ulama tersebut mempunyai andil besar dalam menghantarkan Syaikh Mahfudz menjadi seorang Muhaddist yang ulung.

Makalah ini mencoba menyusun rangkaian biografi Syaikh Mahfudz dan perjalanan intelektualnya serta karya-karyanya.

Nama, Gelar, dan Tanah Kelahiran

Nama lengkapnya Muhammad Mahfudz bin Abdullah bin Abdul Manan bin Abdullah bin Ahmad At-Tarmasi. Kakek beliau KH. Abdul Manan ( 1830-1862) adalah seorang Ulama kharismatik pendiri Pesantren Tremas, salah satu pesantren terkemuka di Jawa.

Syaikh Mahfudz banyak mendapat julukan ( laqob ) dari para Ulama diantaranya adalah Al-Ushuli ( ahli dibidang Ushul Fikih ) , Al-Faqih(ahli dibidang fikih ) , Al-Muqri’(ahli dibidang qira’ah Sab’ah ), Al-Muhaddist ( ahli dibidang hadist ) . Namun demikian Beliau lebih populer disebut Syekh Mahfudz Tremas.
Mengenai tempat lahirnya Syaikh Muhammad Mahfudz, para sejarawan sepakat bahwa beliau dilahirkan di Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Adapun mengenai tanggal lahirnya, disini terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan beliau lahir pada 12 Jumadil Ula 1285 H/31 Agustus 1842 M , ada pula yang mengatakan beliau lahir pada 6 Shafar 1280 H.

Pengembaraan Intelektual

Untuk mengetahui sejarah pendidikannya, guru dan ilmu-ilmu yang dipelajari oleh Syaikh Muhammad Mahfuz Tremas tidaklah terlalu sulit, karena sejarah hidup beliau dapat ditemukan dalam karya-karya beliau. Dalam Kitab Muhibah zil Fadhli jilid ke-4 yang merupakan salah satu karya beliau, dikatakan bahwa beliau pada masa mudanya banyak menimba ilmu kepada ayahnya sendiri, Syaikh Abdullah bin Abdul Mannan at-Tarmasi, Seorang Ulama Jawa yang kharismatik , dari ayahnya beliau mempelajari beberapa kitab, diantaranya :

• Syarh al-Ghayah li Ibni Qasim al-Ghuzza,

• al-Manhaj al-Qawim,

• Fat-h al-Mu’in,

• Fath al-Wahhab,

• Syarh Syarqawi `ala al-Hikam

• Sebagian Tafsir al-Jalalain hingga sampai Surah Yunus.

• Al-mahalli

Lingkungan keluarga yang sholeh, telah mengantarkan Syaikh Mahfudz menjadi Ulama hadist (muhaddis ) terkemuka, demikian juga saudara-saudaranya, seperti Syaikh Dimyati sebagai Ulama Fikih ( Faqih ), Syaikh Bakri sebagai Ulama Qira’ah ( muqri’ ), Syaikh Abdur Razak sebagai Ulama’ Tasawuf ( shufi ).

Setelah banyak menimba ilmu ayahnya, Syeikh Muhammad Mahfudz Tremas kemudian memilih merantau ke Semarang untuk belajar kepada Kyai Muhammad Shaleh bin Umar atau lebih dikenal Kyai Sholeh Darat. Di bawah bimbingan Kyai Saleh Darat ini, beliau mempelajari :

• Syarh al-Hikam (dua kali khatam),

• Tafsir al-Jalalain (dua kali hatam),

• Syarh al-Mardini

• dan Wasilah ath-Thullab (falak).

Setelah beberapa tahun dalam bimbingan Kyai Saleh Darat. Syaikh Muhammad Mahfuz Termas meneruskan pengembaraan ilmunya ke Mekah Banyak alasan mengapa banyak muslim datang ke Makkah untuk mencari ilmu. Pertama, karena pandangan tentang keilmuan Islam dan cara memperoleh ilmu itu. Ada keyakinan bahwa lebih autentik jika ilmu-ilmu keislaman itu dicari dari pusat tumbuhnya, yaitu Timur Tengah, dengan bahasa Arab sebagai salah satu cirinya. Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa banyak di antara para muqimin dan pencari ilmu di Makkah menunjukkan prestasi dan disambut positif oleh masyarakat mereka berasal. Kedua, keyakinan bahwa Makkah adalah tempat pusaran atau bursa ilmu keislaman yang paling dinamis karena sebagai pusat peribadatan, Makkah dikunjungi oleh para ulama mancanegara yang tidak hanya datang untuk menunaikan ibadah tetapi juga melakukan pertukaran ilmu. Dalam batas tertentu, kuantitas dan kualitas sumber atau jaringan ilmu memberikan nilai tersendiri bagi seorang ulama. Ketiga, karena tradisi Makkah yang memberikan peluang yang amat besar bagi orang asing (non-Arab) untuk menuntut ilmu keislaman di sana. Sejak masa pra-Islam komunitas asli Makkah memang telah memiliki tradisi untuk selalu siap menerima kedatangan tamu (hujjaj), melayani dan menghormatinya. Pada masa Islam, tradisi ini berkembang lebih jauh dan pada titik tertentu dikaitkan dengan ajaran Islam yang mendorong pencarian ilmu dan penghormatan terhadap pemilik maupun pencarinya. Mereka yang datang dari luar dan bermuqim di Makkah juga memegang tradisi ini. Dari itu, tradisi waqf dan infaq yang mengarah pada perkembangan ilmu, khususnya ilmu-ilmu keislaman, berkembang dan mengakar dengan kuat.

Di negara kelahiran Nabi Muhammad ini, beliau berguru kepada para ulama terkemuka, diantaranya adalah Syaikh Ahmad al-Minsyawi, dari ulama’ ini, beliau belajar Qira’ah Ashim dan tajwid, sebagian Syarh Ibni al-Qashih ala asy-Syathibiyah. Dalam waktu yang bersamaan, beliau juga belajar kepada Syeikh Umar bin Barakat asy-Syami, dengan mempelajari Syarh Syuzur az-Zahab li Ibni Hisyam. Juga kepada Syaikh Mustafa al-’Afifi, dengan mengkaji kitab Syarh Jam’il Jawami’ lil Mahalli dan Mughni al-Labib. Sahih al-Bukhari kepada Sayid Husein bin Sayid Muhammad al-Habsyi. Sunan Abi Daud, Sunan Tirmizi dan Sunan Nasai kepada Syeikh Muhammad Sa’id Ba Bashail. Syarh `Uqud al- Juman, dan sebagian kitab asy-Syifa’ lil Qadhi al-’Iyadh kepada Sayid Ahmad az-Zawawi. Syarh Ibni al-Qashih, Syarh ad-Durrah al-Mudhi-ah, Syarh Thaibah an-Nasyr fi al-Qiraat al-’Asyar, ar-Raudh an-Nadhir lil Mutawalli, Syarh ar-Ra-iyah, Ithaf al-Basyar fi al-Qiraat al-Arba’ah al-’Asyar, dan Tafsir al-Baidhawi bi Hasyiyatihi kepada Syeikh Muhammad asy-Syarbaini ad-Dimyathi. Dalail al-Khairat, al-Ahzab, al-Burdah, al-Awwaliyat al-’Ajluni dan Muwaththa’ Imam Malik kepada Sayid Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan al-Madani serta ulama’-ulama’ terkemuka lainnya, seperti Syeikh Ahmad al-Fathani dan Syaikh Nawawi Banten, salah satu ulama Indonesia yang juga bermukim di Mekah. Sedangkan guru utama beliau yang paling banyak mengajarnya pelbagai ilmu secara keseluruhannya ialah Sayid Abi Bakr bin Sayid Muhammad asy-Syatha, pengarang kitab I’anatut Talibin, syarah Fathul Mu’in.

Kader Ulama Binaan Syaikh Mahfudz

Menurut Abdurrahman Mas’ud, murid-murid yang di bawah bimbingan Syaikh Mahfudz mencapai empat ribuan dari seluruh penjuru alam, baik dari tanah air maupun luar negeri. Hal itu terhitung kurang lebih mulai beliau mengajar di masjidil haram tahun 1890 sampai abad ke dua puluah.

Di antara murid-muridnya yang berasal dari luar adalah Syaikh Sa’dullah mufti India, Syaikh Umar bin Hamdan Ulama Hadist Haramain, Syaikh Ahmad bin Abdullah Ulama dari Syiria.

Adapun murid-murid syaikh Mahfudz dari Indonesia adalah Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Bishri Syansuri dan Kiai Abdul Wahhab Hasbullah, yang kelak mendirikan Nahdhatul Ulama di tahun 1926. Kita ketahui, ketiga kiai ini merupakan murid Syekh Mahfud yang paling terkenal dan diakui berkat kegiatan politik mereka di Tanah Air. Dia juga mengajar sejumlah murid, dan beberapa di antaranya menjadi ulama yang berpengaruh, sebut misalnya Ali al-Banjari, penduduk Makkah asal Kalimantan Selatan), Muhammad Baqir al-Jugjawi, wong Yogya yang juga bermukim di Makkah, Kiai Haji Muhammad Ma`shum al-Lasami, pendiri pesantren Lasem, Jawa Tengah, Abdul Muhit dari Panji Sidarjo, pesantren penting lainnya dekat Surabaya. Memang banyak di antara murid Syekh Mahfudz yang mendirikan pesantren. Kiai Hasyim sendiri adalah pendiri Pesantren Tebuireng, dan kiai pertama yang menjarkan kumpulan hadis Bukhari. Sedangkan Kiai Bishri Syansuri, menantunya, pendiri pesantren Denanyar, yang juga pernah menjadi rais ‘aam PB NU.

Karya Ilmiyah

Syaikh mahfudz tidak hanya giat dalam menyebarkan ilmunya, Beliau juga giat dalam dunia tulis menulis. Beliau telah banyak mengarang sejumlah kitab tentang berbagai disiplin keislaman, seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab. Sayang, banyak karyanya yang belum sempat dicetak, dan beberapa di antaranya bahkan dinyatakan hilang.diantara hasil karya beliau yang masih tersisa terhitung dua puluh kitab. Sebagai besar telah ditahqiq yag dipelopori oleh menteri agama DR. Maftuh Basyuni.

Dalam menulis, konon Syekh Mahfudz ibarat sungai yang airnya terus mengalir tanpa henti. Gua Hira menjadi tempatnya mencari inspirasi. Dia biasa menghabiskan waktunya di gua tempat Nabi menerima wahyu-Nya yang pertama itu. Kecepatan Mahfudz dalam menulis kitab, juga boleh dibilang istimewa. Khabarnya, kitab ”Manhaj Dhawi al-Nazhar” beliau selesaikan dalam 4 bulan 14 hari. Mahfudz mengatakan bahwa kitab ini ditulis ketika berada di Mina dan Arafat.

Syeikh Muhammad Mahfudz termasuk salah seorang ulama nusantara yang banyak menghasilkan karangan dalam bahasa Arab seperti halnya ulama’-ulama nusantara lainnya yang bermukim di Mekah, seperti Syeikh Nawawi al-Bantani, Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syeikh Abdul Hamid Kudus.

Diantara karangan-karang beliau adalah :

1. As-Siqayatul Mardhiyah fi Asamil Kutubil Fiqhiyah li Ashabinas Syafi’iyah, Selesai penulisan pada hari Jum’at, Sya’ban 1313 H. Dicetak oleh Mathba’ah at-Taraqqil Majidiyah al-’Utsmaniyah, Mekah (tanpa tahun).

2. Muhibah zil Fadhli `ala Syarh al-’Allamah Ibnu Hajar Muqaddimah Ba Fadhal, Kitab fiqh empat jilid ini merupakan syarah atau komentar atas karya Abdullah Ba Fadhl ”Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah”. Kitab ini boleh dibilang jarang diajarkan di pesantren, lebih banyak digunakan oleh kiai senior sebagai rujukan dan sering dikutip sebagai salah satu sumber yang otoritatif dalam penyusunan fatwa oleh para ulama di Jawa. Kitab ini terdiri dari empat jilid. Jilid pertama diselesaikan pada 25 Safar 1315 H,. Jilid kedua diselesaikan pada hari Jum’at, 27 Rabiulakhir 1316 H. Jilid ketiga diselesaikan pada malam Ahad, 7 Rejab 1317 H. Jilid keempat, diselesaikan pada malam Rabu, 19 Jamadilakhir 1319 H. Dicetak oleh Mathba’ah al-’Amirah asy-Syarfiyah, Mesir, 1326 H.

3. Kifayatul Mustafid lima ala minal Asanid, diselesaikan pada hari Selasa, 19 Safar 1320 H. Kandungannya membicarakan pelbagai sanad keilmuan Muhammad Mahfuz bin Abdullah at-Tarmasi/at-Tirmisi. Dicetak oleh Mathba’ah al-Masyhad al-Husaini, No. 18 Syari’ al-Masyhad al-Husaini, Mesir (tanpa tahun). Kitab ini ditashhih dan ditahqiq oleh Syeikh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki, al-Mudarris Daril `Ulumid Diniyah, Mekah.

4. Manhaj Zawin Nazhar fi Syarhi Manzhumati `Ilmil Atsar, diselesaikan pada tahun 1329 H/1911 M. Kandungannya membicarakan Ilmu Mushthalah Hadits merupakan Syarh Manzhumah `Ilmil Atsar karangan Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Kitab ini merupakan bukti bahwa ulama nusantara mampu menulis ilmu hadis yang demikian tinggi nilainya. Kitab ini menjadi rujukan para ulama di belahan dunia terutama ulama-ulama hadis. Dicetak oleh Mathba’ah Mushthafa al-Baby al-Halaby wa Auladuhu, Mesir, 1352 H/1934 M. Cetakan dibiayai oleh Syeikh Salim bin Sa’ad bin Nabhan wa Akhihi Ahmad, pemilik Al-Maktabah An-Nabhaniyah Al-Kubra, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

5. Dua kitabnya di bidang ushul adalah ”Nailul Ma’mul”, syarah atas karya Zakariyya Anshari ”Lubb Al-Ushul” dan syarahnya ”Ghayat al-wushul”,

6. dan ”Is’af al Muthali”, syarah atas berbagai versi karya Subki ”Jam’ al-Jawami’.

7. Sebuah kitab lainnya mengenai fiqh yaitu ”Takmilat al-Minhaj al-Qawim”, berupa catatan tambahan atas karya Ibn Hajar al-Haitami “Al-Minhaj al-Qawim”.

8. Al-Khil’atul Fikriyah fi Syarhil Minhatil Khairiyah, belum diketahui tarikh penulisan. Kandungannya juga membicarakan hadits merupakan Syarh Hadits Arba’in.

9. Al- Badrul Munir fi Qira-ati Ibni Katsir.

10. Tanwirus Shadr fi Qira-ati Ibni Amr

11. Insyirahul Fawaid fi Qira-ati Hamzah

12. Ta’mimul Manafi’ fi Qira-ati Nafi’.

13. Al-Fuad fi Qiraat al Imam Hamzah

14. Tamim al Manafi fi Qiraat al-Imam Nafi’,

15. Aniyah ath Thalabah bi Syarah Nadzam ath Tayyibah fi Qiraat al Asy’ariyah

16. As-Saqayah al-Mardhiyyah fi Asma’i Kutub Ashhabina al- Syafiiyah, kajian atas karya-karya fiqih mazhab Syafi’i dan riwayat para pengarangnya.

17. Al-Fawaidut Tarmasiyah fi Asamil Qira-ati `Asyariyah, Syeikh Yasin Padang menyebut bahawa kitab ini pernah diterbitkan oleh Mathba’ah al-Majidiyah, Mekah, tahun 1330 H.

18. Is’aful Mathali’ Syarhul Badril Lami’.

19. Al-Minhah al-Khairiyya

20. Tsulasiyat al-Bukhori.

Mengingat begitu berharganya karya Syaikh Mahfudz ini, maka tidak salah kalau kiranya Syeikh Yasin Al-Padani, ulama Makkah asal Padang, Sumatra Barat, yang berpengaruh pada tahun 1970-an, menjuluki Mahfudz At-Tarmasi: al-alamah, al-muhadits, a- musnid, al- faqih, al- ushuli dan al- muqri.

Kitab-kitab hasil karya Syeikh Mahfudz tidak hanya dipergunakan oleh hampir semua pondok pesantren salafiyyah di Indonesia, tapi juga banyak pula dipakai sebagai literatur pada beberapa perguruan tinggi di Timur Tengah, seperti di Marokko, Arab Saudi, Iraq dan negara-negara lainnya.

Syeikh Mahfudz sebagai mursyid hadist Bukhori matan ke 23 dan secara berturut-turut mata rantai tersebut mulai Imam Al-Bukhori sampai kepadanya adalah sebagai berikut:

1.    Imam al Bukhori (Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah (194-256 H/810-870 M).

2.    Imam Al-Hafidz Al-Hujja’

3.    Imam Muhammad bin Yusuf bin Matar al-Farbasi.

4.    Imam Abdullah bin Ahmad.

5.    Syeikh Abdul Hasan Abdurahman bin Mudhofar Ad-Daud

6.    Imam Al-Hambali.

7.    Imam Al-Hasan bin Al Mubaraq Az-Zubaidi.

8.    Syeikh Ahmad bin Thalib Al-Hajar.

9.    Syeikh Ibrahim bin Muhammad

10.  Syeikh Ahmad bin Hajar Al-Asqolani

11.  Syeikh Islam Zakaria Al-Ashari Al-Hafidz

12.  Syeikh Muhammad bin Ahmad al Ghaisi

13.  Syeikh Salim bin Muhammad As-Sauhari

14.  Syeikh Muhammad bin Alauddin Al-Babili

15.  Syeikh Abdullah  bin Salam Al-Bashri

16.  Syeikh Salim bin Abdullah bin Salim al Bashri

17.  Syeikh Muhammad Ad-Dafri

18.  Syeikh isa bin Muhammad Al-Barawi

19.  Syeikh Muhammad bin Ali Asy-Sarwani

20.  Syeikh Usman bin Hasan Ad-Dimyathi

21.  Syeikh Ahmad bin Zaini

22.  Syeikh Abu Bakar bin Muhammad Syatho’ ad-Dimyathi

23.  Syeikh Mahfudz bin Abdullah At-Termasi.

Syeikh Mahfudz memberikan ijazahnya kepada Syeikh Hasyim Asy’ari Jombang sebagai mata rantai ke 24  yang berhak menyampaikan hadis Bukhori yang memenuhi kelayakan.

Wafat

Setelah kurang lebih selama empat puluh tahun bermukim di Makkah, dan menghasilkan kader-kader Ulama yang militant, akhirnya Syaikh Mahfudz dipanggil oleh Allah swt pada 1 Rajab 1338 H/20 Maret 1920 M. di Mekah menjelang waktu Maghrib. ribuan kaum muslim menyalatkan dan mengantar jenazahnya ke sebuah pemakaman keluarga Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syata (w. 1310/1892) di Ma’la Makkah.

Beliau meninggalkan dua orang putri yaitu Fatimah dan A’isyah dan seorang putra yaitu Muhammad bin Mahfudz . adapun kedua putrinya tersebut meninggal dunia sebelum balig, dan tinggal putra satu-satunya yaiu Muhammad. Syaikh Mahfudz berwasiat kepada putranya agar mengemban al-Qur’an dan menjaganya, maka untuk merealisasikan wasiat itu sang Putra mendirikan Ma’had Tahfidz al-Qur’an di Demak yang diberi nama bustan I’syaqu qur’an. Dari pondok ini lahirlah para Huffadz yang tersebar di seluruh Nusantara.

Lahu Al-Faatihah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s